Dear, kesayanganku
Sungguh aku tak marah, hanya saja aku masih takut untuk berkomunikasi, hanya saja aku khawatir jika semua yang ku ucap tak pernah sesuai dengan keadaan hatimu dan hanya memperburuk suasana. Lalu akupun berfikir, mungkin akan lebih baik jika kita tak perlu komunikasi dua arah secara langsung. Hanya saja aku berfikir agar semua kesalahfahaman dari komunikasi yang tak sempurna bisa lebih berkurang.
Mungkin aku sedang dalam ke egoisan tingkat tinggi , keegoisan yang membuatku sulit untuk berfikir positif tentang bagamana keadaanmu disana. Mungkin aku belum bisa memahami situasi sulit yang sedang engkau hadapi. Dan kadang aku berfikir, (mungkin) aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, yang selalu bisa mendukung suaminya dalam keadaan apapun, memberi semangat suaminya, berbagi pendapat dan bertukar pikiran untuk mengurangi bebanmu. Tapi sungguh, aku ingin begitu dan masih selalu belajar untuk bisa seperti itu.
Tapi sementara ini, kenyataan yang terjadi justru perselisihan dan kesalahpahaman. Setiap komunikasi yang kita lakukan justru menimbulkan kedongkolan hati dan rasa sakit, akupun tak tau kenapa justru semakin memburuk. Dan aku benar-benar tak tau dengan apa yang terjadi.
Saat kusadari ternyata suamiku dalam kesibukan yang amat besar, aku merasa bahwa betapa bodohnya aku. Kenapa aku justru menjadi bagian yang membuat susah suamiku. Memperburuk keadaan dengan pikiran-pikiran negatifku yang akupun sendiri tak tau kenapa aku tak pernah bisa mengontrolnya. Mengganggu suamiku dengan ego egoku yang hanya ingin selalu diperhatikan dan di manja tanpa berpikir sedang bagaimana suamiku.
Jadi, yang aku tau saat ini, jalan terbaik agar semuanya bisa baik-baik saja dan tenang adalah dengan tak ada komunikasi langsung. Akan lebih baik jika aku cukup mendoakanmu dari jauh di sini. Akan lebih baik jika aku menghilangkan ego-egoku untuk diperhatikan dan dimanja olehmu. Dan aku rasa semua rasa curiga itu bisa hilang perlahan, dan saat semuanya tenang dan kamu sudah selesai dengan semua kesibukanmu, maka semuanya akan membaik dengan sendirinya.
Maafkan aku yang tak bisa berbuat banyak untukmu, maafkan aku yang hanya bisa membuatmu kesal. Semoga dengan tulisan ini semua rasaku bisa tersampaikan kepadamu. Ingin sekali bisa mendukung dan menyemangati suamiku, iya mas, semoga semua urusan mas bisa selesai dengan baik lancar dan barokah. Jangan lupa skripsinya, jangan lupa bawa hapenya karena takut-takut rekan kerjamu punya urusan penting yang mendadak dan butuh bantuanmu. Jangan lupa kunci motornya diletakan di tempat yang sama setiap harinya, jangan tidur dan makan terlalu malam. Kesehatanya dijaga dan jangan terlalu sering memporsir badan untuk urusan pekerjaan.
Maaf mas, ade tak bermaksud untuk menggurui mas dengan semua kalimat di atas. Semoga mas selalu ingat untuk memanage kegiatan2 penting yang harus mas selesaikan. Menulis apa-apa saja yang harus diselesaikan dan ditargetkan. Kemudian dipilah2 dan mengerjakan mana yang menjadi prioritas terlebih dahulu. Jika semua terencana dengan rapi, insya A semuanya akan berjalan rapi.
Semoga suamiku sayang baik-baik saja disana, dengan segala rasa rindu yang aku pendam. Aku hanya bisa mendoakanmu. Semoga persangkaan ku kali ini tak salah dan semoga cara ini bisa mengurangi segala kesalahfahaman yang telah terjadi. Sungguh akupun takut salah menulis dan berucap. Tapi apapun yang terjadi aku harus ,mengungkapkanya, karena selain kepercayaan, keterbukaan juga menjdai bagian penting dalam menjaga sebuah hubungan.
Tertanda
Istrimu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar