Apakah aku harus kembali, setelah aku sudah sampai di tangga 1000? Aku berlari-lari setiap hari, kesana kemari mencari sesuatu yang aku yakin itu menyenangkan, aku terbang, aku berjalan, dan bahkan aku merangkak di sebuah jalan yang aku tak tau apakah disana ada ujungnya. Yang aku tau aku masih memiliki sisa-sisa harapkanku untuk memperoleh suatu hal yang tidak pasti. Pernah aku baca dari seorang teman bahwa ketika kau menemui ketidakpastian, itu berarti semua kemungkinan masih ada, dan aku masih punya alasan untuk tetap berjalan di jalur ini. Di jalur yang berisi semua kemungkinan ini, maka apapun yang kudapat nanti, atau kapanpun aku mendapatkannya itu adalah sebuah hasil yang memang penting bagiku, bagi masa depanku.
Namun ada banyak hal yang lebih penting ketika aku putuskan untuk tetap melalui jalan ini. Ya, disini aku dapat memetik banyak pelajaran berharga dari setiap detik waktu yang aku lalui. Sungguh, semuanya memiliki makna, setiap waktu pasti akan meninggalkan sejarah berharga yang kebaikannya bisa aku ambil dan keburukannya bisa aku jadikan sebagai pelajaran yang seharunya tak akan kuulang.
Untuk itu, aku harus mampu melihat semuanya. Melihat setiap pelajaran yang meski ku ambil, karena aku tak bisa lagi pulang. Hatiku tak mungkin pulang ke tangga pertama, sementara aku sudah berada di tangga yang ke seribu. Dan apapun yang ada di jalan ini akan aku lalui dan kunikmati. Meskipun entah sampai kapan ujung jalan ini aku temui, entah saperti apa keadaan di ujung jalan ini, dan entah sampai kapan kejelasan ini akan ku raih, aku tetap harus mampu berdiri tegar. Berdiri tegar utuk melawan semua unsur negatif, egoku, curigaku, kebencianku, amarahku, dan keras kepalaku yang kadang amat berlebih.
Di jalan ini aku belajar mengendalikan semuanya. Kadang aku seperti berdiri di antara ribuan bunga yang sedang bermekaran, aku sangat merasa bahagia, aku merasa menjadi orang paling bahagia. Tapi seketika aku merasa berdiri di padang gersang, yang amat panas. Aku merasa aku bukan siapa-siapa. Dan sasat-saat seperti itu lah yang membuatku ingin sekali memaksa hatiku kembali ke tangga awal. Aku berharap semua itu hanya mimpi dan aku bisa terbangun di pagi hari. Tapi sesungguhnya, ketika aku berfikir demikian, maka itulah saat-saat bodohnya aku. Kenapa aku marah kepada orang yang seharusnya tidak pantas mendapatkanya, dan kenapa kadang aku marah pada diriku sendiri. Sementara semua itu terjadi begitu cepat, begitu saja mengikuti egoku. Itu mengapa aku menganggap diriku bodoh. Dan saat seperti ini, aku membenci diriku sendiri. Aku ini terlalu sering berdialog dengan diriku.
Maka, beberapa saat kemudian, logikaku baru mampu hadir, mampu hadir ketika semuanya sudah tenang dan otaku jernih. Maka saat seperti ini aku merasa diriku konyol, bodoh dan lemah. Akupun menyuruh diriku sendiri untuk bangkit, berdiri tegak dan tegar untuk menyelesaikan sebuah masalah yang bagi logikaku adalah sepele. Sebuah masalah yang pada kenyataanya aku buat sendiri. Sebuah masalah yang aku harus yakin seharusnya aku mampu menyelesaikannya. Karna aku punya sosok yang selalu bisa ku hadirkan untuk bisa memberikan aku ketenangan, memberikan aku solusi dan menunjukan jalanku.
Ya Tuhan maafkan aku, ternyata aku begitu telat menghadirkanmu, karna logikaku tertindas-tindas oleh egoku, oleh amarahku, oleh hatiku yang tak bisa d atur logikaku. Maka memang kenyataanya, hanya sesekali aku bertanya pada Tuhan, sesekali aku meminta pada Tuhan. Ooohhhh betapa bodohnya aku akhir2 ini, maafkan aku Tuhan, sempat beberapa waktu aku melupakanmu, aku terlalu angkuh, aku terlalu merasa tak pantas meminta, aku terlalu malu padamu, sehingga hanya sesekali saja aku berani menemuimu.
Seharusnya aku tak begini, seharusnya aku selalu ingat Kamu. Seharusnya selalu ada Kamu di setiap senang dan Gelisah ku. Maafkan aku Tuhan, maafkan hambamu yang angkuh ini. Aku hamba yang sebenarnya selalu membutuhkan Mu. Karena kenyataannya, hati ini terasa tenang, nyaman dan damai ketika semua kesenangan ataupun masalah ku ceritakan padaMu. Aku harus bercakap-cakap dengan Engkau setiap waktu.
Ya Tuhan, kuharap semua yang ku lakukan bisa kuniati karena Engkau. Sungguh, hamba sangat membutuhkan Mu, tanpaMu, aku sudah menjadi seonggok badan yang tak bermakna. Terimakasih Tuhan. Terimakasih ...... Keberadaanmu, mampu meyakinkanku, bahwa semuanya akan indah pada waktunya. Disini aku hanya bisa menjalani, berusaha, mengambil pelajaran, dan meminta padaMu. Kapanpun dan apapun, aku pasti akan menemui ujung tangga perjalananku itu. Disana aku tunggu di waktu itu... aku tunggu.... bersama Tuhan yang selalu menemaniku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar