Kamis, 08 Agustus 2013
SAAT-SAAT TERBODOH
Di perjalananku menjadi seorang guru, baru kali ini aku melewati masa-masa sulit, masa-masa dimana aku merasa benar-benar tidak layak menjadi seorang guru. Masa-masa dimana aku tau apa yang harusnya aku lalukan tapi aku tak mampu. Sungguh keterlaluan diriku ini. Aku sangat tak bertanggung jawab, aku lari dari tugas ini dan aku tidak mampu mengemban amanah yang seharusnya aku lakukan. Dan aku bicara pada diriku sendiri, betapa bodohnya aku ini. Saat ini, sekarang, iya sekarang. Bersamaan dengan waktu aku menuliskan tulisan ini, seharusnya aku sedag menyutradaria kelas 10.2. tapi apa yang kulakukan, aku duduk di depan layar gadgetku dan menuliskan semuanya yang ada di pikiran dan hatiku. Betapa keterlaluannya diriku, aku menelantarkan murid-muridku , aku biarkan mereka belajar sendiri, belajar pasif hanya dengan menulis, mencatat hal yang sangat mereka tidak mengerti. Aku tau seharusnya yang kulakukan, aku tau seharusnya aku, setidaknya aku buatkan mereka skenario untuk drama belajar mereka, aku buatkan modul untuk mereka, dan aku buatkan lembar kerja utuk mereka . dan aku, tidak melakukannya. Di saat-saat seperti ini, aku sangat embenci diriku sendiri, aku merasa betapa bodohnya aku, aku masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk menjadi seorang guru profesional yang mampu mencetak generasi cerdas berkarakter. Aku masih berada di bawah garis y=0 dalam targetku. Aku ini masiiiiiih labiiiiillllllllll. Tak bisa kubayangkan bagaimana mereka bisa melakukan semua ini. Melalui semua ini dengan tetap tersenyum meskipun mereka sedang ada masalah. Betpa hebatnya mereka, mereka guru-guru yang patut aku contoh. Mereka mampu menyembunyikan keadaan hati mereka dalam waktu sekejap. Dan apa yang terjadi pada diriku? Aku sangat lemah, aku sangat labil, aku sangat tidak profesional dalam mengemban amanah yang diberikan kepadaku. Aku tak mampu mengubah emosi ini, aku sedih, aku moody, aku terpuruk hanya karena hal kecil yang menurut logikaku adalah hal yang konyol dan bodoh. Dan sayangnya, perasaanku tak mau tau itu. Perasaanku tak pernah mau mendengar apa kata logikaku. Perasaanku amat bodoh, dia amat egois, sensitif, dan selalu mempengaruhi logikaku agar berfikir negatif. Entah apa yang terjadi pada diriku, padahal tak pernah aku mengalami ini sebelumnya, sebesar apapun masalah itu, aku tak pernah merasa terpuruk seperti ini. Sebesar apapun masalah itu tak pernah membuatku menjadi tidak konsentrasi, sebesar apapun masalah itu aku tak pernah sesedih ini dan merasa sebodoh ini dii perbudahk oleh perasaan. Tapi baru kali ini aku alami denganmu. Aku tak tau siapa kamu, dan mengapa bissa Tuhan mengirimkan mu untuk ku. Mengirimkanmu untuk masuk ke dalam hidupku. Dan menjadikanku seorang yang bodoh, egois, moody, dan sensitif. Bahkan aku tak pernah percaya aku bisa memiliki sifat ini sejak mengenalmu. Aku ingin marah pada diriku sendiri. Hey dirikiu!!! Betapa bodohnya aku, memangnya siapa kamu sampe2 aku tak bisa konsentrasi dengan semua hal hanya karena aku tak bisa melepasmu dari pikiranku. Memangnya siapa kamu membuat hatiku berdetak kencang setiap waktu, memangnya siapa kamu membuat aku tak mampu tidur setiap malam, memangnya siapa kamu, membuat aku lupa waktu, emamngnya siapa kamu membuat aku terenyum bahagia dan tiba –tiba menangis sedih dalam sekejap waktu. Memangnya siapa kamu membuat aku tak fokus dengan pekerjaanku. Memangnya siapa kamu berani-baraninya masuk ke dalam hatiku, memangnya siapa kamu tak pernah mau pergi dari hatiku. Memangnya siapa kamu mampu membuatku kagum akan semua cerita tentang segala kelebihan dan kekuranganku. Dan akupun marah pada diriku sendiri, aku benci aku. Karena aku tak mampu mengendalikan diriku sendiri. Aku benci diriku saat aku harus menjadi lebih buruk hanya karena keadaan yang ku ciptakan sendiri. Dan kenyataannya aku sama sekali tak bisa menyalahkanmu. Aku tak bisa membencimu, aku tak bisa menjauhimu, dan aku tak lupa bagaimana caranya melupakanmu. Aku tak kan pernah mampu, sekuat apapun pikiranku berusaha, aku tak kan pernah mampu. Meski ku tampar mukaku berkali-kali. Aku tetap berada dalam lalmunan itu. Lamunan untuk bahagia selamanya bersamamu. Dan satu hal yang harus kulakukan, bahwa saat ini aku harus menghilangkan ras khawatir ini, aku harus menghilangkan rasa khawatir untuk kehilanganmu, aku harus menghilangkan rasa sensitif tentang kelakuanmu, aku harus menghilangkan rasa egois untuk terus mengaturmu, aku harus merubah diriku sendiri. Aku harus mampu mengubah perasaan tak enak ini. Aku tak boleh menjadikan masalah pribadi untuk tidak mood mengajar untuk malas berinteraksi dengan muridku dan untuk tidak melakukan hal apapun, karen malas adalah hal yang sangat aku benci. Dan ironisnya aku sendiri menjadi bagian dari hal yang ku benci. Bodoh kan? Ya itu hal terbodoh seumur hidupku yang telah ku lalui.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar