Powered By Blogger

Jumat, 30 Agustus 2013

Setia Pada Bayangan

Salahkah, jika aku setia pada bayangan?
bahkan perasaan ini tak pernah hilang  sejak 4 tahun yang lalu.  Ada beberapa godaan yang sebenarnya hanya kucoba lakukan agar aku bisa menghapusmu. Namun pada akhirnya pintu ini hanya terbuka untukmu. Sampa saat ini sampai detik ini tanpa engkau mengetahuinya.

Inginkupun tak pernah ada orang lain yang tahu selain aku dan Tuhan. Hanya saja beberapa sahabat dekatku mampu terlalu memahamiku. Dan meraka tahu tanpa aku cerita. Ya beginilah aku, seperti inilah aku. Aku seorang alexithymia akut mungkin ya...

Salahkah jika aku tetap memilihmu sampai kepastian itu tiba? Entah kepastian bahagia bahwa kau telah memasukan aku ke dalam hatimu ataupun kepastian pahit bahwa kau tak pernah menganggapku ada?

Salahkah jika aku hanya diam? Diam tanpa pernah meminta kepastian padamu. Diam dan menunggu saat tiba dan yakin bahwa suatu saat nanti aku akan dapat kepastian ini tanpa harus meminta. Salahkah itu?

Aku tak kan pernah mampu menjelaskan isi hatiku sampai kapanpun, bagaimanapun juga ini adalah hal ternyaman yang bisa aku lakukan. Bagaimanapun juga inilah aku.

Dan haruskah? Haruskah aku mengatakan aku mencintaimu saat aku cinta padamu. Haruskah "aku berkata aku memilih kamu' saat aku menginginkanmu. Haruskah aku berkata "hanya ada kamu dihatiku' saat aku selalu memikirkanmu.  Haruskah? Haruskah semua itu aku ungkapkan?

Sekuat apapun aku mencoba, aku tak kan pernah mampu. Aku tak bisa seperti yang lain. Bahkan aku hanya mampu menyimpanya selama hampir 4 tahun. Aku mampu dan aku akan tetap menunggu.

Bukankan sikap itu jauh lebih baik dari pada ungkapan-ungkapan yang aku pertanyakan.  Haruskah aku ungkapkan. Bukankah sikapku sudah cukup menunjukan semua itu. Bukankah lebih dari cukup jika aku meminta tolong pada sahabatku untuk menanyakan kabarmu saat aku mengkhawatirkanmu. Haruskah aku menghubungimu terlebih dahulu? Aku tak mampu...

Tidakkah cukup aku selalu mau membalas pesan2 mu dan mencoba memberikan solusi-solisi terbaik dalam percakapan kita. Tidakkah cukup aku selalu menceritakan suka dukaku padamu saat kau bertanya. Lebih dari itu aku jarang sekali bercerita pad orang lain .sangat jarang! Tidak kah kau pernah menangkap itu?

Sayangnya aku tak pernah tau itu. Kamu introvert dan aku tak kan pernah mampu bertanya. Ya tak tau sampai kapan aku akan setia pada bayangan. Salahkah itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar